Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Home[Hanya Ingin Menulis]Oct 27, 2007
Apa hubungan antara menulis dan kesehatan? Pada tahun 1990-an, Dr James W Pennebaker melakukan penelitian selama 15 tahun tentang pengaruh membuka diri terhadap kesehatan fisik. Hasil penelitian tersebut dia tulis dalam buku "Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions", bahwa menulis menjernihkan pikiran, menulis mengatasi trauma, menulis membantu mendapatkan, dan mengingat informasi baru, menulis membantu memecahkan masalah, dan menulis-bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.

Profesor Sosiologi lulusan Universitas Sorbonne Perancis Fatima Mernissi berpendapat, menulis menyehatkan, bahkan membuat awet muda. Menurut Fatima, jika kita setiap hari menulis, maka kulit menjadi tetap segar. Saat bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata akan segera lenyap dan kulit akan terasa segar kembali.

“Puluhan studi telah menemukan bukti bahwa banyak orang merasa lebih sehat dan bahagia setelah menuliskan kenangan-kenangan yang traumatis,” kata Dr James Pennebaker —guru besar psikologi University of Texas. Gagasan di balik risetnya adalah “Penerjemahan pengalaman (pahit) ke dalam bahasa akan mengubah cara orang berpikir mengenai pengalaman itu”.

EventMay 2, '10 11:17 AM
for everyone
Start:     May 16, '10 06:00a
Location:     Curug Something (Lupa), Jawa Barat
Jalan-jalan dengan tema alam dan pegunungan. Ini rutinitas tiap tahun yang selalu dilakukan sama temen-temen kampus. Acaranya seharian, jalan pagi, pulang malam.

Blog EntryMay 2, '10 7:41 AM
for everyone
Hari masih gelap ketika saya terjaga pagi itu. Tidak seperti biasa, sebelum jam 6 saya sudah selesai sarapan. Saya menyeret pelan kaki menyusuri jalan yang sudah jarang saya lalui. Jalan persis di gang rumah saya, tempat adik saya terjatuh hingga tak pernah kembali ke rumah. Sengaja melewati jalan itu pagi-pagi, berharap memori tentang adik saya bisa menambah semangat untuk liputan ke Ciputat, Tangerang. Sebuah rute yang cukup melelahkan dari Pengadegan.

Malam sebelumnya, saya sudah menelepon abang saya yang tinggal di wilayah itu untuk minta diantar ke lokasi liputan, tepatnya ke kediaman Dirjen Pajak Tjiptardjo, Komplek Taman Rempoa Indah, Jalan Palm Indah Blok M No 1-2 RT 07/02, Kelurahan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kabupaten Tangerang, Banten. Agendanya, Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mendatangi rumah itu untuk memverifikasi harta kekayaan milik Pak Tjip. Tujuan utama saya bukan liputan verifikasi harta, melainkan menanyai proses pemeriksaan pejabat pajak yang merupakan bos PNS Golongan III di Ditjen Pajak Gayus Tambunan yang ditengarai sebagai mafia pajak.

Usaha saya tak sia-sia, karena pukul 08.00 saya sudah tiba di gerbang komplek, meski harus nyasar karena alamat yang diberikan teman saya salah mutlak. Beberapa teman jurnalis sudah sibuk berkutat dengan nokia E71 maupun Blackberry-nya. "Kalo yang lo maksud mobil pelat merah berisi empat orang, tadi udah masuk (gerbang komplek) sebelum jam 8," jawab seorang wartawan media online ketika saya bertanya.

Dengan santai, saya mendekat ke pintu gerbang dan berucap salam kepada satuan pengamanan. Si satpam mengarahkan saya menemui seorang perempuan di dalam pos jaga. "Tadi teman Anda juga sudah ada yang ke sini. Tapi kami tetap tidak mengizinkan wartawan masuk. Ini sesuai permintaan pemilik rumah," jelas Pelaksana Harian (Plh) Manajer Perumahan. Saya, mundur teratur setelah dia menjelaskan, kedatangan wartawan ke kediaman Tjip dikhawatirkan mengganggu ketenangan penghuni komplek.

Menit demi menit bergulir sampai akhirnya sejumlah wartawan dari berbagai media sudah mengerumuni gerbang komplek. Dan, kesepakatan tak tertulis dicapai dalam tempo singkat: kita masuk dengan atau tanpa izin penjaga gerbang! Saat itu, jarum jam sudah di angka 9 tepat. Satu-satunya mobil salah satu stasiun televisi bergerak merapat mendekati muka gerbang disusul puluhan motor. Saya duduk di boncengan fotografer saya dan berada di sisi kiri mobil. Ibu Plh dan tiga sekuriti bersiaga di depan gerbang. Adu mulut dan kericuhan tak terhindarkan.

Sejumlah mobil dan motor dari dalam komplek terpaksa berhenti terhalau kendaraan bermotor milik para jurnalis. Setelah mengalah sejenak, akhirnya kami berhasil menembus "blokade" sekuriti yang dibantu beberapa warga. Tapi, warga komplek lebih banyak yang mengizinkan kami masuk. Malah, seorang ibu mencegat ketika saya berlari menuju rumah Pak Tjip. "Rumahnya bukan cuma itu, neng. Ada lagi di sebelah sana," kata si ibu penuh semangat.

Berbekal informasi singkat dari si ibu, segera setelah Tim KPK dan Tjip memberi keterangan kepada wartawan, beberapa dari kami lanjut berburu rumah Tjip yang kata si ibu, tak jauh dari komplek itu. Lantas, sampailah kami di depan pagar tembok setinggi lebih dari dua meter. Di dalam pagar tembok, berdiri kokoh rumah Tjip seluas 150 meter persegi di atas tanah 1.645 meter persegi. Menurut penuturan warga sekitar, rumah itu layaknya kebun binatang. Letaknya di Jalan Delima Jaya I RT 06/03 No 40, Kelurahan Rempoa, sekitar 500 meter dari komplek. Sekitar 50 meter dari situ, ada lagi dua rumahnya yang sedang dibangun.

Penasaran, saya dan seorang teman berusaha melihat dengan tegas isi halaman rumah. Melihat ada sebuah gang kecil di samping rumah Tjip, kami menyusuri gang itu. Berharap ada celah. Tapi sayang, rumah-rumah warga itu tertutup rapat karena siang memang sedang terik. Awalnya, kami secara sopan ingin menumpang naik ke lantai dua rumah warga agar bisa melongok ke beranda rumah Tjip. Kami berdua tetap melangkah hingga menemukan sebuah rumah kosong bertuliskan, "Rumah ini dikontrakkan. Hubungi ...."

Tanpa pikir panjang, saya menghubungi sederet nomor telepon di kaca jendela kumal itu. Seorang laki-laki menjawab telepon dengan suara berat.

"Oh, boleh. Kapan mau lihat?" tanya si bapak bersemangat. Suara berat berganti keriangan.

"Sekarang saya sudah di depan rumah kontrakan, Bapak. Kalau boleh, sekarang, Pak?" saya melirik takut-takut ke teman saya yang tersenyum gugup.

Kalian tahu, rumah kontrakan itu terdiri dari dua lantai. Lantai dua rumah itu memiliki beranda sempit yang kami duga bisa melihat langsung ke "kebun binatang" milik Tjip. Itu yang membuat kami memutuskan untuk menelepon pemilik kontrakan.

Seorang ibu paruh baya keluar mengenakan daster sederhana. Tubuhnya kurus, kecil, wajahnya seperti orang baru terjaga dari tidur. Seakan bisa membaca apa yang saya pikirkan, dia buru-buru memberi penjelasan, "Maaf, tadi telepon ke hp ya? Saya tadi lagi salat, jadi gak keangkat."

Dan, kami berhasil masuk ke rumah kontrakan. Kebohongan pun, dimulai! Kami bohong, karena kami percaya diri tingkat tinggi bahwa si pemilik kontrakan tak akan mengizinkan jika kami hanya ingin memanfaatkan lantai dua kontrakannya untuk memotret halaman rumah Tjip. Saya bilang, saya dan teman saya perlu kontrakan karena kami akan bekerja di sekitar Ciputat. Karena kami akan pindah bekerja dan berharap dapat kontrakan yang bisa ditinggali berdua.

Kami saling memberi kode agar ada yang tetap tinggal di lantai dasar dan naik ke lantai dua. Akhirnya, dengan berdebar saya menaiki anak-anak tangga dan teman saya menemani si ibu di lantai dasar. Benar saja. Muka rumah Tjip sangat jelas terlihat. Tapi siyal, kaca jendelanya macet dan saya tak bisa mengambil gambar dengan jelas hingga terdengar langkah kaki dua orang menuju lantai dua. Saat saya tengah menyesali kesempatan yang terlewatkan, dengan santainya, si ibu bilang, "Kalau mau jemur pakaian, ini pintu bisa dibuka." Gembel! Beranda rumah Tjip makin jelas terpampang. Setidaknya, sejumlah binatang peliharaan ada di sana, di antaranya 4 ekor ayam merak, 5 ekor rusa, 2 ekor Burung Kasuari.

Teman saya mengikuti langkah kaki si ibu menuju beranda sambil tersenyum. Dengan kode singkat, kami berdua sepakat agar teman saya bertahan di sana dan bergantian mengambil gambar. Diam-diam, kamera poket saya pun sudah berpindah tangan ke teman saya. "Bu, di bawah bisa parkir motor, ya? Bisa liat, Bu?" tanya saya. Jawaban "boleh" si ibu memaksanya kembali turun ke lantai dasar, saya menguntit di belakang.

Saya bertanya ini itu yang dijawab penuh semangat oleh si ibu. Dalam hati, ada rasa bersalah karena telah membohongi si ibu. Belakangan, teman saya juga merasa tak enak. Ketika teman saya selesai mengambil gambar, saya kembali naik ke lantai dua. "Mau liat lagi ya, Bu," saya beralasan. Karena tadi, saya belum sempat mengambil gambar melalui beranda, kata saya dalam hati. Tak seberapa lama, kami pamit kepada si ibu dan bilang jika berminat, kami akan menghubunginya kembali.

Keluar dari rumah kontrakan, kami memilih jalan ke kanan, untuk mengelabui si ibu dan meyakinkan dia bahwa kami benar-benar mencari kontrakan. Kalau kami mengambil jalan ke kiri, itu berarti kami keluar dari gang dan kembali bertemu teman-teman jurnalis yang masih mengerubung di depan rumah Tjip. Kami curiga, si ibu akan menguntit sampai ke muka gang karena jawaban-jawaban kami tadi banyak yang tidak senada (maklum, kami tak menyiapkan naskah untuk berbohong).

Sepanjang jalan, kami menahan degup jantung karena baru saja melakukan usaha nekad hanya untuk mengambil gambar. Di jalan itu juga terungkap, tak ada satu gambar pun yang berhasil kami bidik dengan baik. Pertama, ketika saya naik pertama kali ke lantai dua, saya terjegal oleh jendela kaca yang macet. Kedua, teman saya tak bisa mengoperasikan kamera yang berhasil dia terima dari saya ketika si ibu membuka pintu menuju beranda. Ketiga, saat saya kembali naik ke lantai dua, saya tak membawa kamera yang ada di teman saya.

Bodoh! Gambar hanya berhasil dibidik menggunakan Blackberry milik si teman, dan ponsel Samsung saya dengan kamera 3,2 megapixel. Tapi sudahlah, toh kami tetap senang. Bukankah, yang penting adalah sebuah proses (usaha), karena hasil adalah urusan Yang Mahakuasa (menenangkan diri dan berkilah mencari pembenaran, heheh).

Selasa, 6 April 2010

Photo AlbumFlight to SingaporeMay 2, '10 6:53 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
April 7th-9th, 2010

Blog EntryDec 31, '09 1:59 PM
for everyone
Ini tahun baru dan aku sadar, lama sekali kita tak bertemu. Aku sebenarnya tak suka bersedih (dan aku yakin tak ada yang mau). Tapi, aku tak mau bohong, kalau aku sedang bersedih. Aku berharap tak akan lama dan semoga semua baik-baik saja. Aku sedang iseng mengintip percakapan yang aku lakukan dengan orang-orang terbaik yang di hidupku hari-hari ini, sampai aku menemukan ini di inbox gmail-ku.

***

Chat with lilis.lira@gmail.com

Reply

|
lilis.lira@gmail.com
to me

show details 9/11/08

12:13 AM me: hai botak
lilis.lira: haiii
me: hai
12:14 AM tulalit
12:16 AM lilis.lira: tes
me: hai
12:17 AM lilis.lira: hai,daaagggh
me: kok lo gitu???
12:18 AM lo udah tau kan sekarang???
lilis.lira: dah,thx 4 all
12:21 AM me: daaahhhh

***

Aku ingat. Ini percakapan terakhir kita via internet. Pagi dini hari tanggal 11 September 2009. Waktu itu, aku meminta kamu menemaniku ke warnet, persis di belakang rumah kita. Kamu, biasanya tak mau karena kamu perempuan rumahan yang enggan sekali keluar rumah tengah malam. Namun kali itu, aku tak tahu kenapa kamu mau. Aku juga baru sadar kalau kamu tiba-tiba mengucap kata "daaagghh" sebagai perpisahan. Aku tak paham kenapa kamu memilih kata itu untuk mencoba chatting pertamamu via gmail itu.

Saat itu, aku sedang mengajarimu membuat account di gmail.com dan kamu ingin menamakannya lilis.lira (Lira sebagai kepanjangan nama kamu, Lilis Rahmawati). Aku membuatkannya. Dan.... ternyata itu adalah percakapan pertama dan terakhir kita via gmail. Sehingga, sekalipun aku mencari ke mana pun, aku tak akan menemukan file percakapan kita.

*Baik-baik di Sana. Entah kapan, kita akan bersama*

Photo AlbumSoe Hok GieDec 18, '09 12:33 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
"Mengenal" Soe Hok Gie baru pada 2004, saat Kakak saya membawa sebuah buku bertajuk "Catatan Seorang Demonstran". Setelah Kakak saya tergila-gila pada buku dan sosok yang diceritakan dalam buku itu, saya melahap habis isinya. Dan, langsung mencari-cari buku lain yang mengisahkan tentang Gie.

Gie, salam hormat saya. Terima kasih karena telah menuliskan banyak hal dalam Catatan Harian. Semoga, saya tak sekadar mengagumi.


In my room
December 19th, 2009
at 12.38 am


*Foto-foto: mencuri dari situs jejaring sosial Facebook bernama Soe Hok Gie dan mesin pencari Google

Blog EntryDec 18, '09 9:07 AM
for everyone
Drama kriminalisasi dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selesai sudah. Paling tidak, kasus pidana yang ditudingkan kepada Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah dihentikan. Urusan siapa otak di balik rekayasa kasus itu masih perlu ditelusuri, tentu semua sependapat. Tapi, itu persoalan lain. Kini, yang harus dicermati, bisakah KPK tetap berdiri di atas independensi lembaga itu tanpa perlu ada konflik kepentingan dengan pihak-pihak tertentu.

Kenapa ini perlu dipertanyakan? Karena saat ini, kelompok-kelompok yang membela Bibit dan Chandra saat didera persoalan kriminalisasi sudah kembali berdiri di tempat yang berbeda untuk kasus lain. Yakni, kasus dugaan skandal pencairan dana talangan untuk Bank Century dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar Rp6,7 triliun. Saya khawatir, atas dasar rasa terima kasih karena telah dibela saat dikriminalisasi, pucuk pimpinan lembaga antikorupsi itu bimbang. Antara tetap berupaya membongkar kasus itu, atau justru terlibat dalam perang batin dan konflik kepentingan dengan pihak yang justru menilai dana bailout itu "halal".

Pasalnya, beberapa pihak kini sudah mulai angkat suara secara sporadis menyikapi kasus Century. Tengok saja klaim bahwa dana LPS bukanlah uang negara. Padahal, sumber dana LPS datang dari kocek negara, jika tak punya cukup uang LPS meminta kepada negara melalui DPR, dana itu dipertanggungjawabkan kepada Presiden, dan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Belum cukupkah alasan itu untuk memastikan bahwa duit itu merupakan uang negara? Uang rakyat? Saya kira sudah cukup.

Perdebatan belum berakhir di situ. Ada lagi yang menilai, jika bailout yang membengkak dari hanya sekitar Rp600 miliar menjadi Rp6,7 triliun itu tidak dikucurkan segara, maka akan terjadi kegentingan di masyarakat. Inilah yang akhirnya disebut, Century telah mengalami kegagalan berdampak sistemik. Maka, meski BPK menyebut bahwa pengucuran dana itu telah melanggar Peraturan Bank Indonesia tentang syarat rasio kecukupan modal 8%v(CAR), pencairan itu tetap dinilai halal dan sah.

Sederhananya, sesuatu yang bisa dikatakan sah dan benar (berdasarkan hukum) adalah yang tidak mengandung penyimpangan. Jika ada sedikit saja penyimpangan, apalagi jika memang sudah cacat sejak lahir, itu tentu saja bisa dibilang patut diduga telah terjadi pelanggaran. Belum lagi, pembenaran-pembenaran seperti, kebijakan tidak bisa dipidana, penyelamatan terhadap Century harus segera dilakukan sampai rapat terpaksa digelar tengah malam hingga subuh, atau menggunakan analisis yang sifatnya kualitatif--yang semestinya kuantitatif. Beberapa aturan didobrak untuk membenarkan langkah pencairan duit yang menyakitkan rakyat itu.

Kita tentu ingin konsistensi terhadap pemberantasan korupsi dikedepankan. Jadi, wacana-wacana lain yang kontraproduktif dengan semangat penuntasan setiap kasus, termasuk kasus Century atau utang pajak pengusaha tertentu, harus dihilangkan. Yang terbiasa konsisten, lalu tiba-tiba konsistensinya meredup, atau hilang sementara hanya karena kepentingan golongan, itu sangat menyakitkan. Karena negara ini sedang butuh, bukan hanya keberanian pimpinan lembaga penegak hukum atau kekuatan rakyat, tapi juga konsistensi yang tetap terjaga dari lembaga yang sangat dipercaya publik.

***Jangan berjudi dengan merusak kepercayaan publik yang sudah mendarah daging***

In the office
December 18th, 2009
at 9.02 pm

Blog EntryDec 16, '09 3:39 AM
for everyone
Kembali aktifnya Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bidang Penindakan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, mau tidak mau membuat kita mengamini bahwa dugaan pidana yang dilakukan keduanya memang diada-adakan. Singkatnya, Bibit dan Chandra, diduga dikriminalisasi. Di tengah proses kembalinya Bibit dan Chandra ke KPK, lembaga antikorupsi itu kembali "diserang" dengan munculnya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Tata Cara Intersepsi atau yang lebih populer disebut RPP Penyadapan.

Adalah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring yang meniupkan wacana "pembatasan" penyadapan lembaga penegak hukum, dalam hal ini terutama KPK. Tifatul mewakili pemerintahan Jilid II Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melalui RPP mengatakan, untuk melakukan penyadapan atau intersepsi, KPK (dan penegak hukum lain) harus mendapat izin dari Ketua Pengadilan Negeri setempat. Celakanya, untuk mendapat izin dari Ketua PN, harus melampirkan berkas seperti yang tertuang dalam Pasal 3 ayat 2 RPP, yaitu surat perintah kepada penegak hukum yang bersangkutan; identifikasi sasaran; pasal tindak pidana yang disangkakan; tujuan dan alasan dilakukannya Intersepsi; substansi informasi yang dicari; dan jangka waktu Intersepsi.

Ini, jelas bertentangan dengan UU No 30/2002 tentang KPK. Yang merupakan landasan hukum bagi KPK dalam menjalankan tugas, fungsi, dan wewenangnya. Pasal 12 ayat 1 huruf a UU KPK menyebutkan, dalam melakukan proses penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, KPK berwenang melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan. Artinya, "mengatur" KPK agar hanya boleh menyadap jika kasus sudah masuk dalam proses penyidikan saja, sudah melanggar UU 30/2002 di mana KPK boleh menyadap mulai dari proses penyelidikan. Bahwa dalam melakukan penyadapan, secara teknis, KPK memang harus diatur tentu saja kita semua sependapat. Tapi, niat yang dikedepankan harus murni untuk mengatur agar lebih baik, bukan untuk membatasi! Tentu Anda paham bukan, definisi mengatur dengan membatasi???

Penegak hukum, dalam hal ini Polri dan Kejaksaan Agung, tidak bisa disamakan dengan KPK. Polri-Kejagung adalah lembaga yang bekerja di bawah Presiden yang bisa dikategorikan sebagai "orang pemerintah". Sedang KPK merupakan lembaga independen yang bertanggung jawab kepada Presiden dan DPR serta diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kontrol terhadap penyadapan KPK juga telah dilakukan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo).

Jika mengacu pada UU bahwa KPK adalah lembaga independen, maka segala yang dilakukan KPK selama tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, tidak boleh dibatasi oleh siapa pun atau aturan mana pun. Maka itu, Pasal 6 RPP yang menyebut, intersepsi dilaksanakan berdasarkan PPS yang ditetapkan oleh Instansi Aparat Penegak Hukum dan diketahui oleh Menteri sesuai dengan prinsip-prinsip perlindungan hak asasi manusia, ini bertentangan dengan semangat independensi dan sifat kerahasiaan dari penyadapan. Bagaimana bisa seorang menteri yang merupakan pembantu Presiden mengetahui penyadapan yang dilakukan oleh KPK, lembaga independen. Apalagi harus diakui bahwa jabatan menteri adalah jabatan politis. Apakah kita tidak boleh curiga bahwa pengaturan ini, rentan kepentingan politik???

Pasal 8 ayat 2 dalam RPP juga perlu dikritisi. Pasal itu menyebut, alat dan perangkat intersepsi harus terpasang dan terhubung dengan Pusat Intersepsi Nasional serta telah memenuhi uji laik operasi dan berfungsi sesuai dengan tujuan peruntukannya. Saya belum mau mengerti tentang maksud pasal ini, bahwa "harus terpasang dan terhubung dengan PIN". Apakah artinya, pihak-pihak di Pusat Intersepsi Nasional itu bisa tahu, siapa yang disadap, dan apa yang dibicarakan dalam rekaman penyadapan itu? Jika demikian, apakah kita masih boleh mengatakan bahwa penyadapan itu bersifat rahasia???

Untuk diketahui, draf RPP Penyadapan itu menyebutkan, Pusat Intersepsi Nasional alias PIN adalah lembaga yang dibentuk dan dikelola oleh pemerintah yang berfungsi sebagai gerbang terpadu yang melakukan pengawasan, pengendalian, pemantauan, dan pelayanan terhadap proses intersepsi agar proses intersepsi berjalan sebagaimana mestinya.


*Ini hanyalah pendapat. Mungkin banyak kesalahan di dalamnya karena dangkalnya pengetahuan*

Blog EntryDec 13, '09 8:03 AM
for everyone
Aku rasa aku takjub
dan kali ini,
logikaku ikut andil dalam urusan ini

Aku terkesan mengikuti caramu menghadapiku
dan dari kamu,
aku belajar bagaimana memberi
meski aku tak tahu dan mungkin tak perlu tahu maksud pemberianmu

Entah kamu memendam apa dalam hatimu
yang aku tahu,
aku merasakan begitu banyak kebaikan
perhatian, perasaan dianggap ada,
bernilai, sedih, duka,dan
dalam hal tertentu harus mengakui bahwa aku belum bisa seelok kamu

Kamu menganggap semua orang sama
kamu menempatkan perbedaan dalam rating yang begitu tinggi
kamu mengabaikan sikap yang hanya memuja kesenangan
kamu selalu haus akan ilmu
dan kamu tak pernah berhenti mencari dan berbagi

Semua yang mengenalmu menempatkan kamu di tempat tertinggi
tak seorang pun melupakan kamu
tak ada yang tidak menyukaimu
karena kamu juga menyukai semua orang
Nampaknya, aku termasuk yang beruntung karena
bisa belajar langsung dari cara kamu memperlakukan orang lain


*Jangan berubah, Kawan. Tetaplah seperti ini karena aku selalu mengingatmu melalui caramu, caramu yang kamu perlihatkan di depanku*

Blog EntryDec 10, '09 2:42 AM
for everyone
Aku tak tahu apa yang terjadi
dengan orang-orang yang waktu itu pernah ada di hidupku
Tak tahu mereka bagaimana, apa yang mereka pikir, dan alami sekarang
Mereka yang saat itu karib denganku,
yang pernah tahu cerita hidupku,
Dan yang kadang berperkara denganku

Tak jarang aku melewati jalan-jalan masa lalu
Menikmati kembali saat pernah melintas di sana bersama orang-orang tertentu
Sampai ingatanku kembali pada sebuah fase yang membuatku menjadi seperti sekarang

Hari ini,
aku juga tak tahu kelak siapa orang yang akan bersamaku
yang mengomentari, mengkritik, dan memberi saran kepadaku
Aku hanya sedang berdiri di ambang pintu yang lain
yang akan aku lalui menuju skenario baru

Aku tegak di sana,
menengok ke dalam masa yang pernah mengajarkanku banyak hal
Dan membawa asaku ke tempat lain yang bisa jadi membuatku menjadi sesuatu
Entah apa...

*Ketika menyadari bahwa telah banyak yang tertinggal*

Blog EntryDec 6, '09 4:04 PM
for everyone
Kamu harus tahu, kita tak lagi jadi apa pun! Tidak lagi! Ini untuk kesekian kalinya saya dibodohi oleh perasaan saya sendiri. Bahwa saya harus menghargai kamu, menganggap kamu bagian dari saya, apapun maknanya. Tapi, sudah! Kalau pun saya perlu berurusan dengan kamu, bukan seperti apa yang pernah sama-sama kita inginkan. Kita? Mungkin bukan kita, tapi hanya saya, saya dan seseorang yang kamu kenal. Sedangkan kamu? Kamu tak pernah berharap bahwa makna kita akan menjadi berarti karena kamu tak pernah menilai saya seperti saya menilai kamu.

Kamu tak pernah menganggap saya seperti apa yang selalu keluar dari mulut kamu. Yang kamu ucapkan tak pernah sama dengan apa yang kamu lakukan. Kamu sakit jiwa! Kamu aneh, dan saya pun harus menjadi aneh jika terus berada di sekitar kamu. Ini harus diselesaikan. Tak lagi! Tak lagi! Kamu tetap saya anggap manusia, manusia yang tak punya arti bagi saya. Maaf, tapi terpaksa saya harus mengatakan itu. Ini menyedihkan, memang! Tapi, akan menyengsarakan lagi kalau saya terus berkata bahwa kita baik-baik saja. Tidak! Kita tak pernah baik-baik saja karena kamu telah mengantar saya pada kondisi di mana saya harus benar-benar tidak perlu lagi berurusan dengan kamu.

Kita, saya dan kamu, pernah berada dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Saya pun tahu, kesalahan itu bukan hanya ada pada kamu, tapi juga saya. Dan demi apa pun yang melekat pada "ikatan" kita, saya merasa perlu mengalah. Tapi, saya manusia, Sayang! Tak seharusnya kamu merasa bahwa kamu saja yang manusia. Bahwa kamu selalu boleh menyakiti saya sementara saya harus terus mengikuti drama kamu yang selalu merasa bahwa saya yang menyakiti kamu. Tapi kalau pun benar demikian, anggaplah saya yang gila dan menjauhlah dari hidup saya yang gila! Kita, selesai! Tak lagi ada urusan yang harus kita lakukan berdua! Tak lagi! Dalam hal apa pun!


*Maaf, jika saya mengambil jalan saya sendiri, kamu punya pilihan. Sedang saya tak punya selain tak lagi berurusan dengan kamu*

Blog EntryDec 6, '09 4:01 PM
for everyone
Negeri ini rusak, Tuanku!

Jangan kau bicara tentang angka-angka kemajuan ekonomi Indonesia (jika ada) di tingkat makro yang hanya kau dan keluargamu saja yang mengerti. Berhentilah membohongi anak negerimu dengan menyodorkan angka-angka kosong yang tak pernah bermakna peningkatan. Kau bilang daya beli masyarakat meningkat, tapi apa yang berani kau bilang ketika melihat Meniseh, yang menjadi tersangka hanya karena mencuri kapuk untuk makan?! Kapuk seharga Rp6.000 itu telah mengantar Maniseh untuk wajib lapor ke kantor polisi yang berjarak 20 km dari gubugnya di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Jarak itu ditempuhnya dengan berjalan kaki, Tuanku! Dan masih harus berutang untuk menyogok oknum polisi senilai Rp1,5 juta jika tidak ingin anaknya dipukuli di dalam rumah tahanan.

Di sudut negeri ini yang lain, tepatnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, ada nenek Minah yang karena mencuri tiga biji kakao seharga Rp2.000 harus berhadapan dengan hukum. Kasusnya, tanpa dia pahami makin cepat bergulir. Dia harus rela diganjar satu bulan dan 15 hari kurungan penjara sejak vonis dibacakan pada 19 November lalu.

Lelucon hukum juga diperagakan di Kediri, Jawa Timur. Adalah Basar dan Kholik yang mencuri sebuah semangka milik Sudarwati, pemilik kebun. Warga Bujel, Kediri, itu terpaksa menjalani proses hukum di Kepolisian Sektor Mojoroto, hanya karena mencuri untuk menghilangkan dahaga. Apa kau masih punya muka untuk bertemu rakyatmu, Tuanku? Seharusnya, tidak. Aku ingin bilang, kau tidak salah sepenuhnya, tapi kau harus bertanggung jawab sepenuhnya. Kau tentunya tahu bagaimana cara bertanggung jawab, bukan?

Kenapa aku harus paksa kau untuk bertanggung jawab, Tuanku? Karena itulah tugasmu. Bertanggung jawab atas apa yang terjadi di negeri ini. Kau yang mengatur semua hal, kau yang tahu apa pun yang terjadi yang kami tak pernah tahu apa itu. Kau tak perlu menyembunyikan apa pun, Tuanku. Karena kami makin cerdas dan kami akan menentang apa pun yang kau lakukan tanpa "seizin" kami! Kami yang menggaji kau, kami memeras keringat untuk membayar upah kau sebagai si tukang pengurus negeri. Kau ikutilah perintah kami, jika tidak ingin kami ganggu kedudukanmu di kursimu yang nyaman dan megah itu.

Berhentilah membual, Tuanku! Dan kami ingatkan, berhenti mempermainkan dan membodohi kami! Berhenti berlagak telah memberi solusi padahal kau hanyalan nol besar. Kami tahu apa yang akan kami lakukan jika kau mencekoki kami dengan kelalainmu menjalankan tugas besar ini. Lihat sajalah apa yang sudah kami lakukan belakangan ini yang cukup membuatmu repot dan bingung. Bekerjalah sesuai mandat yang kami berikan jika kau tak ingin mempertaruhkan kursimu!

*Kau hanya perlu mengerjakan apa yang kau bicarakan di hadapan publik, Tuanku. Karena kami tak tahu apa yang kau sepakati di Istana megahmu*

Blog EntryNov 29, '09 5:14 AM
for everyone
Keputusan itu sudah diambil
tanpa sebuah pengakuan
Tak ada yang dia nyatakan secara terbuka
tentang apa yang sebenarnya dia rasa

Dia hanya mengangguk
menyetujui apa pun yang diambil si pembuat ketetapan
Tak ada gelengan kepala tanda penolakan
pun tak berhasrat untuk membuat pengakuan

Baginya,
pengakuan itu tak lagi berarti
Karena itu sama saja dengan nol
Toh, setelah mengaku
dia tak mendapat akibat apa pun kecuali, makin terpuruk!

Kamu tahu kenapa?
Karena dia telah memilih untuk menenggelamkan rasa yang sebenarnya
dia tak lagi ingin menggubris apa pun yang bersemayam di hatinya
baginya, pilihan adalah kemarin, bukan hari ini
meski waktu untuk membuat keputusan belum berakhir

Apalah artinya sebuah pengakuan jika tak bisa direalisasikan
Pikiran itu mengacaukannya hingga kehidupan baru telah dimulai
Kini, hanya dia yang tahu
apakah pengakuan itu pernah menjadi berarti
atau memang, hanya akan mengoyak mimpi yang telah dia bangun


*Kini, dia tersudut dengan pertanyaan, adakah hal yang harus dilakukan setelah mengakui? Dia tak pernah tahu jawabnya karena dia tak pernah berani memastikannya*

Blog EntryNov 20, '09 9:37 AM
for everyone
Gadis itu berdiri di sana. Kalah dan lelah. Sedangkan dia tak mampu berbuat apa pun, kecuali menyisakan sedikit waktu untuk mencuri pandang ke arahnya. Dia berkali-kali hanyut dalam roman muka gadis itu, yang saat ini nampak begitu sendu. Entah apa yang telah terjadi pada gadis bermata sipit itu, batinnya.

Sebuah persoalan tengah menggayuti pikirannya, hingga dia tak pernah tahu seseorang di sana diam-diam duduk mengamatinya. Dia tengah dikerubuti perasaan kalut. Jengah sebenarnya dia mendapati dirinya dalam keadaan kalah dan lelah. Tapi dia tahu, dia tak bisa berbuat banyak selain diam dan melihat satu-satu keyakinannya tumbang. Dia tak lagi yakin berada di tempat dia berada sekarang.

Laki-laki itu menyesali dirinya yang tak mungkin mendekat pada gadis itu. Gadis yang selalu ada dalam khayalannya setiap saat, tanpa jeda. Dia muak pada dirinya sendiri karena hanya bisa mengamati, tanpa sedikit pun berusaha untuk menghampirinya untuk sekadar, memastikan dari dekat, gadis itu masih mampu menginjak bumi. Atau untuk membisikkan kalimat bahwa seseorang akan dengan senang hati membimbingnya keluar dari kerisauan itu. Tapi tidak, kakinya tak selangkah pun maju. Dia tetap di situ, diam, dalam keegoisan.

Gadis itu pun berlalu. Mengantongi sekelumit penyesalan di hati laki-laki itu. Dan membawa pikirannya yang tak lagi jernih, ke sebuah tempat, yang akan mengantarnya pada kebahagiaan abadi, dengan mengingat Sang Pencipta.


*Apapun, gadis itu adalah orang yang paling mengenal dirinya sendiri. Dan kini, dia tahu dia tak berani memutuskan apa pun dalam hidupnya*

Blog EntryNov 14, '09 10:50 AM
for everyone
Bagaimana aku bisa menjelaskan, aku bisa sampai ke sini
sedang teman-temanku, menurut egoku, berada satu depa di belakangku
paling tidak, ini tentang apa yang aku sebut sebagai apa yang harus aku ketahui, dan seharusnya, yang harus mereka (juga) ketahui.
Tapi toh, mereka acuh

Hanya saja, aku belakangan harus mengakui
bahwa apa pun yang aku dapat dengan cara tidak "halal" ini mulai mengusikku
Aku mulai tersudut dengan kesimpulanku sendiri bahwa aku adalah apa pun yang bisa dikategorikan sebagai kenistaan
Kategori ini tak begitu buruk ketimbang hasil akhir (yang bersifat sementara) yang sudah aku dengar

Aku masih berharap,
ini hanya bualanku sendiri tentang diriku
bagaimana pun, ada orang lain yang harus aku mintai pendapat
dan sebelumnya, aku dengan tegar harus mengakui semua "dosa-dosa" yang sudah ku lakukan
Meski jauh di alam sadarku,
sepertinya dosa itu tak pernah ku lakukan, bahkan terpikir pun tidak!

Tapi bagaimana pun, demi kebaikanku sendiri
aku tidak mau menelan sendiri "kegentingan" ini
paling tidak, penilaian akhir yang (mungkin) sementara itu harus objektif
Pendapat orang ketiga, selain diriku dan imajinasi liarku, mutlak aku butuhkan
karena aku khawatir sekali
aku agak gila jika sudah melakukan penekanan pada diriku sendiri

Soal lain lagi,
aku berpikir bahwa tengah berkompetisi dengan banyak orang
Padahal ternyata, aku tak pernah berhadapan dengan mereka
Tak satu pun dari mereka!
Termasuk, tak pernah membelakangi mereka dan melangkah terlalu jauh
seperti yang kusimpulkan sendiri
Aku hanya sedang berhadapan dengan diriku
dan pikiranku yang tak pernah bisa kubendung!

Blog EntryNov 13, '09 7:26 AM
for everyone
Serangan itu tiba-tiba datang
Menggeruduk pertahananku,
dan,
selesai!

Aku tak lagi berdiri di sana
Karena aku melarang diriku sendiri untuk mencari
Aku tak lagi memerlukannya
(Mungkin) aku sudah tahu adegan akhirnya

*Jika yang kita lakukan sudah tak dibutuhkan, rasanya tak perlu ditelusuri lebih dalam lagi*

Photo AlbumPangkalpinang, Kepalauan Bangka BelitungNov 6, '09 3:00 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Lupa kapan waktu persisnya, tapi ini waktu mau pulang ke Jakarta setelah ikut liputan Wakil Presiden Jusuf Kalla

Blog EntryNov 4, '09 7:35 AM
for everyone
Bisakah kita mengakui, sekarang, bahwa negeri ini tetap terjajah, dijajah, atau sengaja menjual diri? Mungkin tak bisa dipastikan, karena belum ada kekuatan hukum tetap. Tapi, mungkin, percobaan menjual diri kepada koruptor. Dijajah koruptor. Tapi saya tak tahu, pasal apa yang patut dikenakan kepada oknum penegak hukum yang secara "sah dan meyakinkan" menjual diri kepada para koruptor. Orang beruang punya kuasa di negeri ini.

Belum bisa dipastikan, saya sependapat sementara ini. Karena menjustifikasi seseorang, atau oknum, hina sekali jika dilakukan. Tapi bahwa ada indikasi yang mengarah pada dugaan menjual negara dan kepercayaan rakyat oleh oknum penegak hukum, kepada yang diduga koruptor, itu bisa dijabarkan. Misal, pembicaraan antara pihak yang memiliki kasus dengan pejabat penegak hukum yang masih hangat kita dengarkan. Atau, permintaan pencegahan ke luar negeri yang sudah diminta oleh penegak hukum lain yang tidak diindahkan oleh institusi yang berwenang. Ini menimbulkan tanya, kenapa?

Seseorang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, menjadi buron, bukan ditangkap, malah dimintai keterangan sebagai saksi. Sekali lagi, kenapa? Oke, dia adalah saksi untuk penegak hukum lain. Tapi dia juga adalah tersangka dan buron untuk penegak hukum juga. Kenapa tidak dibantu ditangkap sementara itu adalah kewenangan instansi itu? Ditangkap dulu, diperiksa sebagai tersangka, kemudian lembaga ini juga akan membantu jika instansi itu membutuhkan keterangan sang buron sebagai saksi.

Yang baru ini, seseorang yang diduga mengatur rekayasa pidana untuk orang lain, dinilai belum bisa dinyatakan sebagai tersangka karena bukti belum cukup. Rekaman, sayangnya, bukan merupakan alat bukti (kalau tidak salah, red). Padahal di sana, secara terang benderang, terdengar bagaimana rekayasa tersebut dirancang. Salah satu contoh kecil, "Dia sudah tahu kalau Toni itu saya, Pak. Kalau Toni itu Anggodo." Itu sebagian kecil kutipan dalam rekaman pembicaraan. Kalau bukan untuk sesuatu yang, sebut saja rekayasa, untuk apa Anggodo berperan sebagai Toni.

Ingat? Dalam rekaman yang disita dari laptop mantan orang nomor satu di instansi penegak hukum, ada orang yang mengaku diri sebagai Toni. Toni, bersama seorang buronan, bersama orang yang mengaku bernama Edy, dan bersama mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ada dalam rekaman percakapan di Singapura. Lalu kalimat, "Dari awal S**** sama saya ke Singapura," kata Anggodo, yang ternyata juga adalah Toni.

Tapi, baiklah. Alat bukti belum cukup atas kasus dugaan pidana rekayasa mungkin terpaksa diterima. Karena, belum bisa dikumpulkan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam. Tapi untuk mencatut nama seorang Presiden negara yang bermartabat, apakah orang itu bisa dibiarkan? Apalagi, sudah ada instruksi, untuk oknum yang "menjual" nama Presiden, harus diusut tuntas!

Kalau pun bukan untuk dugaan pencemaran nama baik Presiden, tak bisakah diduga percobaan permufakatan jahat untuk memidanakan orang lain? O, saya lupa. Awam sekali saya tentang hukum. Tak tahulah. Mungkin memang hanya percobaan pemerasan yang bisa dikenakan kepada seseorang. Percobaan pemerasan yang merupakan "gubahan" dari dugaan suap dan atau dugaan penyalahgunaan wewenang. Hmmmm... Analisis hukum yang rumit. Apakah alat bukti dugaan penyalahgunaan wewenang, dugaan suap, dengan percobaan pemerasan itu sama? Ah, lagi-lagi, saya awam.

*Saya hanyalah orang awam yang menyesali jika (benar) negara ini dijual kepada (yang diduga) koruptor.*

Tuan, janganlah kalian menjual kepercayaan rakyat. Tak bisakah kita, akhirnya merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Tanpa kumpeni, tanpa penjajah, tanpa koruptor, tanpa pejabat yang tak pernah puas menjual harga diri bangsa demi uang.

Blog EntryOct 28, '09 5:00 AM
for everyone
Aku menjumpainya di sana
Di sudut tergelap yang buram
Peluh-peluh dingin itu menyiratkan keterpurukan, keengganan

Dia tak sendiri, karena fiksi ini menyisakan dirinya dan ketakutan
Aku tak yakin jika dia tak membayangi konsekuensi terburuk
Tapi, sayangnya memang demikian
Sial sekali negeri ini harus menanggung hidup orang yang tak sanggup menghadapi pilihannya sendiri

Di tempat yang lain,
seseorang teronggok bersama kegelisahan
Rasa itu yang lantas membunuh nyalinya
Dia mundur teratur secara tegas, nyata!
Tanpa penolakan, tanpa syarat keberaniannya meleleh dilalap kekuasaan
Segala pembenaran pun, muncullah

Aku tahu, dan sadar,
tiap orang, termasuk ketakutan dan kegelisahan, mengantongi hak sama
Tapi, jujurlah
Jika tak sanggup lagi berdiri di sana, dengan konsistensi yang sama,
pergilah, enyahlah...

Pastikan tak ada seorang pun yang menahan kalian
Karena kami tak butuh ketakutan dan kegelisahan yang dibentengi pembenaran
Uang kami, bukan untuk membayar ketakutan dan kebingungan

*Menjauh saja! Karena soal ini tak bisa dituntaskan dengan ketakutan telak yang kalian miliki*

Blog EntryOct 28, '09 4:57 AM
for everyone
Semua menarik napas lega,
entah karena sejuta tanya terjawab sudah
atau justru karena ingin segera mengakhiri percakapan itu
Aku termasuk salah satu yang terperangah, tegang, sekaligus merasa lucu
Hampir ku tahan napas tiap kali bertanya
Tak tahu bagaimana yang lain

Aura pertemuan malam itu belum pernah kurasa sebelumnya
Taktis, bergairah,
dan memaksa adrenalin setiap yang bernapas terpompa deras

Aku rasa kita harus satu suara bahwa kita memenangkan pertarungan itu
Paling tidak,
harus diamini bahwa kita bisa mengimbangi permainan mereka
Mereka yang akhirnya buka suara tentang wacana yang semakin liar hari-hari ini
Meski harus ku akui juga
banyak tanya yang masih menggantung

Tapi setidaknya,
secara tak langsung telah kita beberkan
Kita bukanlah orang yang menerima apa saja bulat-bulat
Akhirnya mereka juga berpikir,
kita bukan "bagian" dari mereka yang selalu "ada" untuk mereka
Dan aku pastikan, mereka tahu bahwa kita bisa memukul dan mendukung kapan pun kita mau

*Bukankah akhirnya kalian berpikir bahwa kami mencurigai kalian? Tenanglah, ini baru awal, Tuan!*

27 Oktober 2009
01.20 WIB

Blog EntryOct 28, '09 4:55 AM
for everyone
Aku menggumam pelan
Entah pada diri sendiri atau membisik pada angin
Kata hatiku menegaskan, aku harus membuka tabir ini
Tapi sebelah hatiku mengumpat,
"Apa yang kau cari dengan berlelah-lelah selama lebih separuh waktumu"

Aku tahu, tujuanku di depan sana
Pun aku pastikan, ini bukan tanpa arti
Tapi sekali lagi, sepotong keraguan itu tetap muncul
Akan sebuah kepastian, bilakah ini jadi awal
Atau justru, aku yang alpa
Karena drama ini
hampir berakhir
Dengan kemenangan sang penguasa

*Aku hanyalah penonton, yang menyaksikan drama, demi drama*

Semakin jelas,
aku makin ingin bergeming saja

NoteGuestbook
   
alhaqiir wrote on Dec 29, '09
Hi....My Dearst Friend


glitter-graphics.com
maman12 wrote on Jul 26, '09
duniauchi wrote on Jul 25, '09
thanx 4 invite^^. mari berteman^
envyslim wrote on Jul 13, '09
Mau punya tubuh langsing kembali setelah melahirkan?atau teman2 lagi ada masalah sama berat badan yg makin bertambah?Yuhu....skrng rahasia langsing ada di pakaian pelangsing envyslim(baca keterangannya di http://www.envyslim88.blogspot.com ; http://www.envygirdle88.blogspot.com).envyslim telah banyak membantu wanita dlm menurunkan berat badan berlebih hingga 6kg/bln,mengecilkan perut buncit,pinggul&paha dan it's time to say bye..bye to lemak2 menggelambir non diet&olahraga,pill.Contact Linda yuk :08161400946 / 021-92997989 / add ym linda : putri_thatagata88@yahoo.com
Nah untuk teman2 yang mau mengecilkan LENGAN,BETIS,perut,pinggul&PAHA bisa juga pakai slimcut:http://www.slimcut.blogspot.com
kalau mau sehat yuk baca keterangan di : http://www.morinoki88.blogspot.com & http://www.tracemineral88.blogspot.com
paijoreall wrote on Jun 25, '09
lam kenal ya,,,,dari ku,,,for all,,,,,,,,
paijoreall wrote on Jun 25, '09
wedew,,,,,,,,,,,,,,,,,,puisi dari mana nih,,bro,,,,,,,
fryanditaslim wrote on Jun 24, '09
Salam kenal dari ME&ME-PETS___
deboe wrote on Jun 24, '09
hai juga buuu...thanks 4 add...
kandipippo wrote on May 25, '09
benwae said
Ngintip ah...
Udah selesai kah ngintipnya? Hueheheheheh...
benwae wrote on May 24, '09
Ngintip ah...
whawha78 wrote on May 24, '09
Salam kenal ya?
kandipippo wrote on Apr 10, '09
Choirulumy: Wasslm... met malam.. selamat mampir...
choirulumy wrote on Apr 5, '09
assalamu'alaikum wr. wb.
met pagi, numpang mampir....
2cute4gift wrote on Mar 13, '09
aih.........berat lah......puyengggggg

hehehehe
zanikhan wrote on Feb 7, '09
)8( Weblog Zanikhan )8(
dhanuh wrote on Feb 4, '09
Assalamu'alaikum,
Syukron dah diinvite & salam ukhuwah.
aqse wrote on Feb 1, '09
biasa aje kalee ..
eh, makasih udeh approve ...
rumahkehidupan wrote on Jan 30, '09
ya ukhti,silahkan download lagunya...
afwan baru sempet bales...
Pages:12345678